Jasa Pembuatan Web Sekolah/umum Go Design [klik untuk model]

Harga Rp.3000.000-5000.000

Jasa Pembuatan Blog Pembelajaran/Umum Go Design [klik untuk model]

Harga Rp.500.000-600.000

Perbaikan dan Instalasi PC/Laptop Klik Untuk Rincian Harga

Harga Instalasi Rp.95.000 Win+Ofice. Perbaikan Rp.65.000

Friday, 18 November 2016

Ted Robert Gurr. Teori Deprivasi Relatif

Teori deprivasi relatif ini merupakan hasil pemikiran dan penelitian Ted Robert Gurr yang dituangkan dalam karyanya Why Men Rebel (1970). Adapun ringkasan teori tersebut sebagai berikut.
a. Dengan mendefinisikan deprivasi relatif sebagai hasil proses perubahan harapan dan kemampuan untuk memenuhi harapan itu maka bentuk deprivasi dapat dibedakan berdasarkan pola-pola perubahan.
a) Deprivasi presisten, yaitu kemampuan yang secara konstan berada di bawah harapan.
b) Deprivasi aspirasional, yaitu harapan naik dan kemampuan konstan.
c) Deprivasi dekremental, yaitu harapan konstan dan kemampuan turun.
d) Deprivasi progresif, yaitu kemampuan naik, tetapi masih lebih rendah dibandingkan harapan.

b. Ketidakpuasan menciptakan potensi untuk kekerasan politik. Tiga kelompok faktor yang mempelantarai potensi untuk kekerasan politik dan kekerasan aktual, yaitu justifikasi normatif untuk kekerasan, justifikasi kemanfaatan (utilitarian) untuk kekerasan, keseimbangan antara sumber-sumber daya koersif dan institusional dari pemberontak versus pemerintah/negara.



Sumber
https://sosiologi-sman-1-cibeber-cikotok.blogspot.co.id/2016/11/ted-robert-gurr-teori-deprivasi-relatif.html


Supardan, Dadang. 2009. Pengantar Ilmu Sosial; Sebuah Kajian Pendekatan Struktural. Bumi Aksara. Jakarta.

Sugesti

Sugesti merupakan bagian dari bentuk interaksi sosial yang menerima dengan mudah pengaruh orang lain tanpa diseleksi dengan pemikiran kritis.  Tanpa menggunakan kekuatan fisik atau paksaan. Keadaan mental seseorang menjadi mudah terkena sugesti orang lain, biasanya didahului oleh simpati, rasa kagum, dan menyenangi sehingga sering mengikuti kehendak atau pengaruh dari orang lain tersebut. Sugesti banyak digunakan untuk memperoleh dukungan, terutama oleh pemimpin-pemimpin kharismatik, seperti Hitler, Bung Karno, Lenin, dan sebagainya.

Namun, tidak berarti bahwa sugesti semata-mata dari pengaruh eksternal (heterosugesti) karena sugesti secara luas merupakan pengaruh psikis yang berasal dari orang lain maupun diri sendiri atau otosugesti (Belen, 1994:253). Sugesti yang berasal dari diri sendiri atau otosugesti, contohnya rasa sakit-sakitan yang dirasakan seseorang, padahal menurut diagnosis dan pemeriksaan dokter tidak ada gangguan fisik atau penyakit, sesungguhnya rasa sakit itu hanya perasaan saja yang ketakutan dan selalu dibesar-besarkan rasa sakit tersebut. Sedangkan untuk contoh heterosugesti telah diberikan di atas, seperti yang dilakukan oleh para pemimpin yang kharismatik dan bintang film terkenal yang memprovokasi untuk melakukan sesuatu tindakan.

Seseorang dapat dengan mudah menerima sugesti yang terjadi karena berbagai hal.
1. Bila yang bersangkutan mengalami hambatan dalam daya pikir kritisnya, apakah itu karena stimulus yang emosional atau karena kelelahan fisik dan mental. Stimulus emosional misalnya, dalam suatu pertunjukkan atau konser seni musik yang sangat mengagumkan, seorang penonton dapat berteriak histeris. Sedangkan untuk contoh sugesti yang disebabkan oleh kelelahan fisik dan mental, misalnya seorang dosen yang memberikan nilai yang besar dan tidak sesuai dengan kemampuan daya pikir mahasiswa yang sebenarnya karena kebetulan berkas jawaban ujiannya yang berbentuk uraian ada pada urutan 79 dari sejumlah mahasiswa 82 orang.

2. Karena seseorang mengalami disosiasi atau terpecah belah pemikirannya.

3. Karena adanya dukungan mayoritas yang dapat memengaruhi perubahan opini, prinsip, dan pendapat maka individu ataupun kelompok minoritas dapat berubah pendapat sesuai kehendak mayoritas.



Sumber
https://sosiologi-sman-1-cibeber-cikotok.blogspot.co.id/2016/11/sugesti.html
 

Supardan, Dadang. 2009. Pengantar Ilmu Sosial; Sebuah Kajian Pendekatan Struktural. Bumi Aksara. Jakarta.

Sigmund Freud. Teori Agresi

Teori agresi dimotori oleh Sigmund Freud dalam karyanya Beyond the Pleasure Principle (1920). Ini dari teori tersebut adalah.
a. Perilaku agresif manusia pada dasarnya didorong oleh dua kekuatan dasar yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari sifat manusia, yakni insting/naluri kehidupan (eros) dan insting/naluri kematian (thanatos).

b. Eros mendorong orang mencari kesenangan dan kenikmatan untuk memenuhi keinginan. Sedangkan thanatos diarahkan pada tindakan-tindakan destruktif diri serta perasaan berdosa/bersalah.

c. Karena sifatnya antagonistik, kedua insting/naluri itu merupakan sumber konflik intrinsik yang berkelanjutan, yang hanya dapat diatasi dengan mengalihkan kekuatan dengan orang yang bersangkutan kepada orang lain. Dengan demikian, bertindak agresif terhadap orang lain dianggap merupakan mekanisme untuk melepaskan energi destruktif sebagai cara melindungi stabilitas intrafisik pelaku.

d. Satu alternatif yang mungkin dapat dilakukan melalui katarsis (pelepasan) yang dapat dilakukan melalui humor maupun menyalurkan agresi terhadap benda-benda tiruan, serta berolahraga yang menunjukkan permainan keras.



Sumber
https://sosiologi-sman-1-cibeber-cikotok.blogspot.co.id/2016/11/ted-robert-gurr-teori-deprivasi-relatif.html

Supardan, Dadang. 2009. Pengantar Ilmu Sosial; Sebuah Kajian Pendekatan Struktural. Bumi Aksara. Jakarta.

Legitimasi

Konsep legitimasi menunjuk pada keterangan yang mengesahkan atau membenarkan bahwa pemegang kekuasaan maupun pemerintah adalah benar-benar orang yang dimaksud (yang secara hukum adalah sah). Legitimasi memegang peranan penting dalam sistem kekuasaan, mengingat dengan legitimasi yang diperolehnya tersebut dapat memudahkan ataupun melancarkan suatu pengaruh kekuasaan yang dimiliki seseorang ataupun kelompok. Namun demikian, legitimasi tidak menjamin akan dapat memuaskan para anggotanya yang terus-menerus tanpa batas terhadap kepemimpinannya itu. hal itu terjadi jika sang pemimpin atau pemegang kekuasaan itu tampak mengingkari, tidak memenuhi tuntutan yang dipimpinnya (Johnson, 1986:91).

Pemikiran tentang legitimasi merupakan sebuah penemuan dalam pemikiran modern, yang terwakili dengan baik pada janji Rousseau dalam Social Contract, yang memperlihatkan bagaimana sebuah otoritas politik dapat disebut absah, yang juga diperdalam oleh Max Weber, seorang ahli teoritis modern.

Dalam teori modern terdapat asumsi bahwa legitimasi harus memiliki hubungan ciri-ciri otoritatif, hukum, perasaan, mengikat, atau kebenaran yang melekat pada sebuah tatanan; sebuah pemerintah atau negara dianggap absah maka memiliki hak-hak untuk memerintah (Scaff, 2000:562). Lalu timbul pertanyaan: apakah hak itu ada, dan bagaimana keberadaan serta menentukan maknanya? Dalam hal ini, Weber (1968) menjawab: ini hanyalah probabilitas dari orientasi pada keyakinan subjektif atas validitas sebuah tatanan yang mendukung tatanan absah itu sendiri. Menurut pandangan ini hak dapat diterima sebagai keyakinan dalam kesesuaian dengan tatanan yang ada dan hak untuk memerintah. Adanya standar objektif bersifat eksternal atau universal untuk menilai kebenaran yang didasarkan pada hukum alamiah, penalaran, atau sebuah prinsip transhistoris tampaknya selalu ditolak dengan alasan tidak masuk akal atau naif. Di sinilah Weber sebagai ahli sosiologi membentangkan empat alasan untuk memperoleh legitimasi bagi setiap tatanan sosial, yakni tradisi; pengaruh; personalitas nilai; legalitas. Klasifikasi ini dipakai sebagai landasan analisisnya yang terkenal tentang tipe-tipe ideal dominasi yang absah; tradisional, kharismatik, rasional legal (Scaff, 2000:563).



Sumber
https://sosiologi-sman-1-cibeber-cikotok.blogspot.co.id/2016/11/legitimasi.html


Supardan, Dadang. 2009. Pengantar Ilmu Sosial; Sebuah Kajian Pendekatan Struktural. Bumi Aksara. Jakarta.

Kekuasaan (Power)

Konsep kekuasaan merujuk kepada kemampuan seseorang atau kelompok manusia untuk memengaruhi tingkah laku seseorang atau kelompok lain sedemikian rupa sehingga tingkah laku itu menjadi sesuai dengan tujuan dan keinginan dari orang yang memiliki kekuasaan (Budiardjo, 2000:35). Dengan demikian, konsep kekuasaan itu sangat luas karena setiap manusia pada hakikatnya merupakan subjek sekaligus objek kekuasaan. Misalnya, sekalipun seorang presiden sebagai penguasa eksekutif tertinggi (subjek kekuasaan), tetapi ia harus tunduk kepada undang-undang (objek kekuasaan). Definisi kekuasaan memang terlalu melimpah dan sangat beragam.

Menurut Philip (2000:820), terdapat tiga sumber utama yang menyebabkan dalam definisi kekuasaan selalu ada perbedaan mendasar.
a. Adanya perbedaan disiplin dalam ilmu-ilmu sosial yang menekankan perbedaan basis kekuasaan, misalnya kekayaan, status, pengetahuan, kharisma, kekuatan, dan otoritas.
b. Adanya perbedaan bentuk kekuasaan, seperti pengaruh, paksaan, dan kontrol.
c. Adanya perbedaan penggunaan kekuasaan, seperti tujuannya untuk individu atau masyarakat, tujuan politik atau ekonomi?

Begitu pun pada diskusi-diskusi mengenai kekuasaan tahun 1950-an, saat itu kekuasaan didominasi oleh perspektif-perspektif yang saling bertentangan yang ditawarkan oleh teori-teori elite kekuasaan (Mills, 1950) dengan menekankan kekuasaan sebagai bentuk dominasi (Weber, 1978) yang dijalankan oleh suatu kelompok yang lain dengan keberadaan konflik kepentingan fundamental. Dalam hal ini contohnya Parson (1960) yang menggunakan pendekatan struktural fungsional, melihat kekuasaan sebagai “kapasitas tergeneralisasi dari suatu sistem sebagai kapasitas untuk mencapai tujuan”. Sementara Mills (1956) memandang kekuasaan sebagai suatu hubungan di mana satu pihak menang atas yang lain. Tentu saja pandangan ini diserang oleh kaum pluralis yang mengatakan bahwa menurutnya kekuasaan dijalankan oleh kelompok-kelompok sukarela yang mewakili koalisi-koalisi kepentingan yang sering tersatukan, baik oleh isu tunggal maupun beragam dalam hal kelanggengan secara nyata (Dahl, 1967; Polsby, 1963).



Sumber
https://sosiologi-sman-1-cibeber-cikotok.blogspot.co.id/2016/11/kekuasaan-power.html


Supardan, Dadang. 2009. Pengantar Ilmu Sosial; Sebuah Kajian Pendekatan Struktural. Bumi Aksara. Jakarta.

Imitasi

Imitasi merupakan salah satu proses interaksi sosial yang banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari dengan meniru perbuatan orang lain secara disengaja. Pengaruhnya dapat positif dan negatif. Secara positif, imitasi dapat menimbulkan pengaruh makin patuhnya terhadap norma-norma yang berlaku, terutama dalam sistem masyarakat patrimonial (patronase). Sedangkan secara negatif, seperti dengan maraknya film-film kekerasan maka di masyarakat dan sekolah pun kekerasan makin meningkat intensitasnya.

Menurut seorang ahli psikologi sosial dan kriminolog Prancis, Gabriel Tarde (1842-1904) bahwa masyarakat tiada lain dari pengelompokan manusia, di mana individu satu sama lain mengimitasinya. Manusia baru dapat menjadi suatu masyarakat manakala ia mau mengimitasi kegiatan manusia lainnya, dengan semboyan La sosiele c’est I’imitasion. Teori imitasi tersebut lebih lanjut dikembangkan oleh Albert Bandura dari Universitas Stanford, teorinya dikenal dengan Social Learning Theories, dan Teori Modeling. Menurutnya manusia belajar melalui peniruan, mengambil pola-pola perilaku yang mereka lihat di sekitar mereka, dan juga melalui proses umum yang disebut pembiasaan.

Dalam eksperimennya yang sederhana dengan boneka bobo, Bandura membagi anak yang diamati menjadi 3 kelompok. Satu kelompok berada di sebuah kamar selama 10 menit untuk memerhatikan seorang dewasa anggota regu peneliti. Ia bertindak sebagai model yang menurut perkiraan akan ditiru anak-anak. Model tersebut menyerang boneka bobo dengan menghantam hidungnya, memukul kepalanya dengan palu, dan akhirnya menduduki boneka itu sambil berseru “Bangsat, tunduk terus kau!”. Kelompok anak-anak yang kedua, melihat model yang sama-sama bermain akrab dengan boneka bobo. Kelompok yang ketiga, anak-anak dibiarkan tanpa ada model yang menganiaya maupun bermain dengan boneka bobo. Kemudian, ketiga kelompok anak ini secara serempak dimasukkan ke dalam kamar yang sudah disediakan boneka bobo, dan ternyata anak-anak kelompok pertama adalah anak-anak yang paling agresif melakukan kekerasan dengan memukul-mukul boneka bobo. Dari penelitian ini jelas bahwa agresi dan kekerasan lebih dominan dilakukan melalui pembelajaran imitasi dengan model yang diberikan (Bailey, 1988:45).



Sumber
https://sosiologi-sman-1-cibeber-cikotok.blogspot.co.id/2016/11/imitasi.html

Supardan, Dadang. 2009. Pengantar Ilmu Sosial; Sebuah Kajian Pendekatan Struktural. Bumi Aksara. Jakarta.

Crowding (Kerumunan Massa)

Crowding (kerumunan massa) merupakan suatu kumpulan orang-orang yang memiliki kepentingan yang sama walaupun mungkin tidak saling mengenal dengan emosi-emosi yang mudah dibangkitkan dan tidak kritis (Chaplin 1999:118). Ini banyak terjadi seperti kaum Holigan Sepak Bola Inggris yang brutal, di mana beberapa tahun yang lalu terjadi tawuran dengan pendukung Italia di Brussel, Belgia bahkan menewaskan beberapa ratus orang pendukung Italia. Hal serupa terjadi pada perilaku bringas “Boneknya Persebaya” yang suka merusak fasilitas publik, seperti gerbong kereta api, maupun “Bobotoh Persib Bandung”, jika kalah bertanding merusak fasilitas umum, seperti tanaman hias, pot bunga, dan lampu hias di pinggir jalan.

Mengapa sampai terjadi demikian? Menurut Gustav Le Bon (1841-1932), seorang ahli psikologi sosial Prancis yang terkenal dengan bukunya Psychologie de foules (1895) bahwa suatu massa seakan-akan memiliki suatu jiwa tersendiri yang berlainan sifatnya dengan jiwa individu satu persatu. Dengan demikian, seorang individu yang bergabung dalam massa tersebut sebagai anggota massa itu akan berpengalaman dan bertingkah laku secara berlainan dibandingkan dengan pengalaman dan tingkah lakunya sehari-hari selaku individu. Jiwa massa tersebut impulsif, lebih mudah tersinggung, bersikap menerabas, lebih mudah terbawa oleh sentimen-sentimen, kurang rasional, suggestible, mudah mengimitasi agresi dan kekerasan, serta lebih bersifat primitif dalam arti buas, beringas, tidak rasional, penuh sentimen, serta sukar dikendalikan (Gerungan, 2000:34). Teori Le Bon tersebut diikuti oleh Adolf Hitler dalam bukunya Mein Kampf.



Sumber
https://sosiologi-sman-1-cibeber-cikotok.blogspot.co.id/2016/11/crowding-kerumunan-massa.html

Supardan, Dadang. 2009. Pengantar Ilmu Sosial; Sebuah Kajian Pendekatan Struktural. Bumi Aksara. Jakarta.

Attention!

Pembaca yang budiman, blog ini admin namai pustaka, dengan maksud hanya perpustakaan, kumpulan berbagai artikel atau tulisan dari berbagai sumber yang admin sertakan di setiap bagian akhir postingan.
Terima kasih
Admin