Jasa Pembuatan Web Sekolah/umum Go Design [klik untuk model]

Harga Rp.3000.000-5000.000

Jasa Pembuatan Blog Pembelajaran/Umum Go Design [klik untuk model]

Harga Rp.500.000-600.000

Perbaikan dan Instalasi PC/Laptop Klik Untuk Rincian Harga

Harga Instalasi Rp.95.000 Win+Ofice. Perbaikan Rp.65.000

Saturday, 25 February 2017

Georg Simmel. Fesyen

Di dalam salah satu esainya yang memesona secara khas dan dualistik, Simmel (1904/1971; Gronow, 1997; Nedelmann, 1990) menggambarkan kontradiksi-kontradiksi di dalam fesyen dengan berbagai cara. Di satu sisi, fesyen adalah suatu bentuk hubungan sosial yang mengizinkan orang-orang yang ingin menyesuaikan diri dengan tuntutan kelompok berbuat demikian. Di sisi lain, fesyen juga memberikan norma yang dapat dilanggar orang-orang yang ingin tampil individualistik. Fesyen juga meliputi suatu proses historis: pada tahap awal, setiap orang menerima apa yang mengikuti fesyen; secara tidak terhindarkan, para individu menyimpang dari mode itu; dan akhirnya, di dalam proses penyimpangan itu mereka mungkin mengadopsi suatu pandangan yang benar-benar baru mengenai apa yang sedang fesyen. Fesyen juga bersifat dialektis di dalam arti bahwa keberhasilan dan penyebaran suatu fesyen tertentu pada akhirnya menghasilkan kegagalannya. Yakni, kekhasan sesuatu menyebabkan ia dianggap fesyen; akan tetapi, setelah banyak orang menerimanya, kekhasan itu berhenti sebagai hal yang khas sehingga kehilangan daya tariknya. Dualitas lainnya lagi meliputi peran pemimpin suatu gerakan fesyen. Orang seperti itu memimpin kelompok, secara paradoksal, dengan mengikuti fesyen yang lebih baik daripada orang lain, yakni, mengadopsinya dengan lebih tekun. Akhirnya, Simmel berargumen bahwa dualisme tidak hanya terdapat di dalam usaha orang yang mengikuti fesyen, tetapi juga di dalam usaha orang-orang yang tidak mengikuti fesyen. Orang yang tidak mengikuti fesyen memandang orang-orang yang mengikuti fesyen sebagai peniru dan mereka sendiri sebagai orang yang tidak memihak, tetapi Simmel menyatakan bahwa orang yang belakangan hanya terlibat dalam suatu bentuk peniruan terbalik. Para individu dapat menghindari apa yang sedang terkenal karena mereka takut bahwa mereka, seperti teman sebayanya, akan kehilangan individualitasnya, tetapi di dalam pandangan Simmel, ketakutan seperti itu nyaris bukan merupakan tanda kekuatan pribadi dan independensi yang besar. Singkatnya, Simmel mencatat bahwa di dalam fesyen “semua... membawa tendensi-tendensi antitesis... yang digambarkan dalam suatu atau lain cara” (1904/1971:317).

Pemikiran dialektis Simmel juga dapat dilihat pada level yang lebih umum. Ia sangat tertarik pada konflik dan kontradiksi-kontradiksi yang ada di antara individu dan struktur-struktur sosial dan budaya yang lebih besar yang di bangun para individu. Struktur-struktur tersebut pada akhirnya mempunyai kehidupannya sendiri, yang hanya sedikit dapat dikendalikan atau tidak dapat dikendalikan oleh individu.

Sumber:
Ritzer, George. "Teori Sosiologi". 2012. Pustaka Pelajar. Yogyakarta

Friday, 24 February 2017

Georg Simmel. Pemikiran Dialektis

Cara Simmel membahas antarhubungan-antarhubungan di antara tiga level dasar realitas sosial (menyisihkan level keempatnya yang metafisik) memberi sosiologinya suatu sifat dialektis yang mirip dengan sosiologi Marx (D. Levine, 1991b:109). Seperti yang kita lihat di awal, suatu pendekatan dialektis adalah multikausal dan multidireksional yang menggabungkan fakta dan nilai, menolak ide bahwa ada garis-garis pemisah yang tidak dapat diubah antara fenomena sosial, berfokus pada relasi-relasi sosial (B. Turner, 1986), tidak hanya melihat masa sekarang, tetapi juga masa lampau dan masa depan, dan memerhatikan secara mendalam baik konflik-konflik maupun kontradiksi-kontradiksi.

Meskipun ada kemiripan di antara Marx dan Simmel dalam penggunaan pendekatan dialektis, ada perbedaan penting di antara mereka. Perbedaan yang paling penting ialah fakta bahwa mereka berfokus pada aspek-aspek dunia sosial yang sangat berbeda dan memberikan gambaran-gambaran yang sangat berbeda tentang masa depan dunia. Lain dari optimisme revolusioner Marx, Simmel mempunyai pandangan masa depan yang lebih dekat dengan gambaran Weber mengenai “kerangkeng besi” yang tidak mempunyai jalan keluar.

Simmel mewujudkan komitmennya pada dialektika dalam berbagai cara. Untuk satu hal, sosiologi Simmel selalu memerhatikan hubungan-hubungan (Lichtblau dan Ritter, 1991), khususnya interaksi (asosiasi). Secara lebih umum, Simmel adalah seorang “relasionis metodologis” (Ritzer dan Gindoff, 1992) yang bekerja dengan “prinsip bahwa segala sesuatu berinteraksi dalam suatu cara dengan segala sesuatu yang lain” (Simmel, dikutip dalam Frisby, 1992:9). Secara keseluruhan dia selalu membiasakan diri dengan dualisme, konflik-konflik dan kontradiksi-kontradiksi dalam setiap ranah dunia sosial yang kebetulan digarap (Sellerberg, 1994). Donald Levine menyatakan bahwa perspektif itu mencerminkan kepercayaan Simmel bahwa “dunia dapat dipahami lebih baik dalam kerangka konflik dan kontras di antara kategori-kategori yang berlawanan” (1971:xxxv). Postingan berikutnya mengenai fesyen (mode) merupakan salah satu contoh model berpikir dialektik yang dikembangkan oleh Simmel.

Sumber:
Ritzer, George. "Teori Sosiologi". 2012. Pustaka Pelajar. Yogyakarta

Georg Simmel. Level-level dan Wilayah-wilayah perhatian

Simmel mempunyai teori yang jauh lebih rumit dan canggih mengenai realitas sosial daripada yang lazimnya dihargai di dalam sosiologi Amerika kontemporer. Tom Bottomore dan David Frisby (1978) menyatakan bahwa ada empat level dasar perhatian di dalam karya Simmel. Pertama adalah asumsi-asumsi mikroskopiknya tentang komponen-komponen psikologis kehidupan sosial. Kedua, pada suatu skala yang agak lebih besar, adalah perhatiannya pada komponen-komponen sosiologis hubungan antarpribadi. Ketiga, dan yang paling makroskopik ialah karyanya mengenai struktur dari, dan perubahan di dalam “semangat” sosial dan budaya zamannya. Simmel tidak hanya bekerja dengan gambaran mengenai realitas sosial berstrata-tiga tersebut, ia menganut prinsip emergensi (Sawyer, 2005), ide bahwa level-level yang lebih tinggi muncul dari level-level yang lebih rendah: “perkembangan lebih lanjut menggantikan kesegeraan kekuatan-kekuatan yang berinteraksi dengan penciptaan formasi-formasi supra-individual yang lebih tinggi, yang tampak sebagai wakil-wakil independen kekuatan-kekuatan itu dan menyerap dan menjembatani hubungan-hubungan antara para individu” (1907/1978:174). Dia mengatakan, “Jika masyarakat menjadi suatu objek yang otonom untuk suatu ilmu yang independen, maka ia hanya dapat demikian melalui fakta bahwa di luar jumlah unsur-unsur individual yang membentuknya, muncul suatu entitas baru; kalau tidak, semua masalah ilmu sosial hanya akan menjadi masalah-masalah psikologi individual” (Simmel, dikutip di dalam Frisby, 1984: 56-57). Melingkupi ketiga strata tersebut adalah strata keempat yang meliputi prinsip-prinsip metafisis fundamental kehidupan. Kebenaran-kebenaran abadi itu memengaruhi semua karya Simmel dan, seperti yang akan kita lihat, menghasilkan gambarannya atas arah masa depan dunia.

Perhatian kepada level-level berganda realitas sosial tersebut tercermin di dalam definisi Simmel atas tiga “wilayah” masalah yang dapat dipisahkan di dalam sosiologi di dalam karyanya “Wilayah-wilayah Persoalan Sosiologi” (1917/1950). Yang pertama dia lukiskan sebagai sosiologi “murni”. Di wilayah tersebut, variabel-variabel psikologis digabungkan dengan bentuk-bentuk interaksi. Meskipun Simmel mengasumsikan dengan jelas bahwa para aktor mempunyai kecakapan-kecakapan mental kreatif, dia memberi sedikit perhatian eksplisit kepada aspek realitas sosial demikian. Karyanya yang paling mikroskopik berkenaan dengan bentuk-bentuk yang diambil interaksi dan juga dengan tipe-tipe orang yang terlibat di dalam interaksi (Korlos, 1994). Bentuk-bentuk itu mencakup subordinasi, superordinasi, pertukaran, konflik, dan keramahan. Di dalam karyanya mengenai tipe-tipe, dia membedakan antara posisi-posisi di dalam struktur interaksional, seperti “pesaing” dan “wanita genit”, dan orientasi-orientasi kepada dunia, seperti “orang kikir”, “pemboros”, “orang asing”, dan “petualang”. Di level menengah adalah sosiologi “umum” Simmel, yang membahas produk-produk sosial dan budaya sejarah manusia. Di sini Simmel mewujudkan perhatiannya yang berskala besar di dalam kelompok, struktur dan sejarah masyarakat dan kebudayaan-kebudayaan. Akhirnya, di dalam sosiologi “filosofis” Simmel, dia membahas pandangan-pandangannya mengenai hakikat dasar, dan takdir yang tidak terhindarkan, umat manusia.

Sumber:
Ritzer, George. "Teori Sosiologi". 2012. Pustaka Pelajar. Yogyakarta

Thursday, 23 February 2017

Max Weber. Tipe-tipe Rasionalitas

Tipe yang pertama ialah ‘Rasionalitas Praktis’, yang didefiniskan oleh Kalberg sebagai “setiap cara hidup yang memandang dan menilai kegiatan duniawi terkait dengan kepentingan-kepentingan individual pragmatis dan egoistis belaka” (1980:1151). Orang yang mempraktikkan rasionalitas praktis menerima realitas-realitas yang sudah ada dan hanya memikirkan cara-cara yang paling bijaksana untuk menghadapi kesulitan-kesulitan yang dihadirkannya. Tipe rasionalitas ini muncul bersama terputusnya ikatan-ikatan magis primitif, dan ada secara lintas-peradaban dan lintas budaya; yakni, tidak terbatas pada Barat modern. Tipe rasionalitas ini berlawanan dengan apa pun yang mengancam akan melebihi rutinitas sehari-hari. Rasionalitas praktis membawa orang untuk tidak memercayai segenap nilai-nilai yang tidak praktis, baik rasionalitas intelektual yang religius, baik utopia religius maupun sekuler, dan juga rasionalitas teoretis para intelektual.

‘Rasionalitas Teoretis’ meliputi usaha kognitif menguasai realitas melalui konsep-konsep yang semakin abstrak daripada melalui tindakan. Rasionalitas ini mencakup proses kognitif seperti deduksi logis, induksi, pengaitan kausalitas, dan semacamnya. Tipe rasionalitas ini mula-mula dicapai dalam sejarah oleh para ahli sihir dan imam-imam ritualistik dan kemudian oleh para filsuf, hakim, dan ilmuwan. Tidak seperti rasionalitas praktis, rasionalitas teoretis membawa aktor melampaui realitas-realitas sehari-hari dalam usaha untuk memahami dunia sebagai suatu kosmos yang berharga. Seperti rasionalitas praktis, rasionalitas teoretis ini lintas-peradaban dan lintas-sejarah. Efek rasionalitas intelektual pada tindakan terbatas. Ia memuat proses-proses kognitif, ia tidak harus memengaruhi tindakan yang diambil dan hanya secara tidak langsung ia berpotensi untuk memperkenalkan pola-pola tindakan yang baru.

‘Rasionalitas Substantif’ (seperti rasionalitas praktis tetapi bukan rasionalitas teoretis) menata tindakan secara langsung ke dalam pola-pola melalui himpunan nilai-nilai. Rasionalitas substantif melibatkan pemilihan alat-alat menuju tujuan di dalam konteks suatu sistem nilai. Satu sistem nilai tidak lebih rasional (secara substantif) daripada nilai lainnya. Oleh karena itu, tipe rasionalitas ini juga ada secara lintas-peradaban dan lintas-sejarah, apabila ada rumusan-rumusan nilai yang konsisten.

Akhirnya, dan yang paling penting dari sudut pandang Kalberg adalah ‘Rasionalitas Formal’ yang meliputi kalkulasi alat-tujuan (Cockerham, Abel dan Luschen, 1993). Akan tetapi, sementara di dalam rasionalitas praktis kalkulasi tersebut terjadi dengan mengacu kepada kepentingan diri, di dalam rasionalitas formal ia terjadi dengan mengacu kepada “aturan-aturan, hukum-hukum, dan pengaturan-pengaturan yang diterapkan secara universal”. Seperti dinyatakan Brubaker, “Umum bagi rasionalitas kapitalisme industrial, hukum formalistik dan administrasi birokrasi adalah bentuknya yang diobjektivikasi, diinstitusionalisasi, supra-individual; di dalam masing-masing ruang lingkupnya, rasionalitas terwujud di dalam struktur sosial dan menghadirkan diri pada individu sebagai sesuatu yang eksternal bagi mereka” (1984:9).

Meskipun semua tipe rasionalitas lainnya adalah lintas-peradaban dan melampaui-zaman, rasionalitas formal hanya muncul di Barat dengan datangnya industrialisasi. Aturan-aturan, hukum-hukum, dan pengaturan-pengaturan yang diterapkan secara universal yang mencirikan rasionalitas formal di Barat ditemukan secara khusus di dalam lembaga-lembaga ekonomi, hukum dan ilmiah, dan juga dalam bentuk dominasi birokratis. Oleh karena itu, kita telah menjumpai rasionalitas formal di dalam postingan tentang Weber sebelumnya mengenai otoritas legal-rasional dan birokrasi.



Sumber:
Ritzer, George. "Teori Sosiologi". 2012. Pustaka Pelajar. Yogyakarta

Max Weber. Rasionalisasi

Ada kesadaran yang terus tumbuh di tahun-tahun terakhir ini bahwa rasionalisasi terletak di jantung sosiologi substantif Weber (Brubaker, 1984; R. Collins, 1980; Eisen, 1978; Kalberg, 1980, 1990; D. Levine, 1981a; Ritzer, 2008b; Scaff, 2005, 1989; Schluchter, 1981; Sica, 1988). Seperti dinyatakan Kalberg, “Keadaan yang sebenarnya ialah perhatian Weber pada suatu tema yang luas dan melingkupi—“rasionalisme” ‘spesifik dan khas kebudayaan barat’ dan asal usul dan perkembangannya yang unik—terletak di pusat sosiologinya” (1994:18). Akan tetapi, sulit untuk merumuskan definisi rasionalisasi yang jelas dari karya Weber, “Sesungguhnya, Weber bekerja dengan sejumlah definisi istilah itu yang berbeda-beda, dan dia sering gagal menguraikan secara spesifik definisi mana yang sedang dia gunakan di dalam suatu diskusi tertentu (Brubaker, 1984:1). Weber benar-benar mendefinisikan rasionalitas; dia membedakan di antara dua tipe—rasionalitas alat-tujuan dan rasionalitas nilai. Akan tetapi, konsep-konsep itu mengacu pada tipe-tipe tindakan.

Konsep-konsep itu adalah dasar, tetapi tidak mempunyai batas yang sama dengan pengertian Weber atas rasionalisasi berskala besar. Weber tertarik bukan pada orientasi-orientasi tindakan yang terpecah-pecah, tetapi terutama pada keteraturan-keteraturan dan pola-pola tindakan di dalam peradaban, lembaga-lembaga, organisasi-organisasi, strata, kelas-kelas, dan kelompok-kelompok. Donald Levine (1981a) menyatakan bahwa Weber tertarik pada rasionalitas “yang diobjektifikasi”, yakni tindakan yang sesuai dengan proses sistematisasi eksternal. Stephen Kalberg (1980) melakukan tugas yang bermanfaat dengan mengidentifikasi empat tipe dasar rasionalitas (‘objektif’) di dalam karya Weber (Levine memberikan pembedaan yang sangat mirip). Tipe-tipe rasionalitas tersebut adalah: alat-alat heuristik dasar [Weber] yang digunakan untuk meneliti nasib historis rasionalisasi sebagai proses sosiokultural (Kalberg, 1980:1172; untuk penerapannya, lihat Takayama, 1998).



Sumber
Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi; Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Wednesday, 22 February 2017

Max Weber. Sosiologi Substantif

Kini kita beralih ke sosiologi substantif Weber. Seperti yang dilakukan Weber di dalam karyanya yang monumental Economic and Society, kita mulai pada level tindakan dan interaksi. Akan tetapi, kita akan segera berhadapan dengan paradoks mendasar di dalam karya Weber: walau dia tampak berkomitmen kepada sosiologi yang membahas proses-proses yang berskala kecil, karyanya terutama berada pada level-level dunia sosial berskala besar.

Apa itu Sosiologi?
Dalam menegaskan pandangannya atas sosiologi, Weber sering bersikap menentang sosiologi evolusioner berskala besar, organisisme, yang menonjol pada masa itu. Misalnya, Weber berkata: “Saya menjadi satu [seorang sosiolog] untuk mengakhiri gagasan-gagasan kolektivis. Dengan kata lain, sosiolog pun dapat dipraktikkan hanya dengan melanjutkan tindakan seorang atau lebih, sedikit atau banyak, individu, artinya, dengan menggunakan metode ‘individualis’ yang ketat (G. Roth, 1976:306). Kendati menyatakan kesetiaan kepada metode ‘individualis’, Weber terpaksa mengakui bahwa mustahillah melenyapkan secara total ide-ide kolektif dari sosiologi. Akan tetapi, meskipun mengakui pentingnya konsep-konsep kolektif, pada akhirnya Weber mereduksi konsep-konsep tersebut menjadi pola-pola dan keteraturan-keteraturan tindakan individual: “Untuk penafsiran subjektif atas tindakan di dalam kegiatan sosiologis, kolektivitas-kolektivitas itu harus diperlakukan semata-mata sebagai akibat-akibat dan cara-cara pengaturan tindakan-tindakan khusus orang-orang individual, karena hanya hal-hal itulah yang dapat diperlakukan sebagai agen di dalam serangkaian tindakan yang dapat dipahami secara subjektif” (1921/1968:13).

Pada level individual Weber sangat memperhatikan makna, dan cara pembentukannya. Tampak sedikit keraguan bahwa Weber percaya pada, dan bermaksud untuk menjalankan mikrososiologi. Akan tetapi, dalam kenyataannya, itukah yang dia lakukan? Guenther Roth, salah seorang penafsir terkemuka Weber, memberi kita jawaban yang tegas di dalam gambarannya mengenai tujuan menyeluruh Economy and Society, yakni “perbandingan empiris struktur sosial yang ketat dan normatif di dalam kedalaman dunia historis” (1968:xxvii).

Lars Udehn (1981) menjelaskan masalah dalam menafsirkan karya Weber itu dengan membedakan antara metodologi Weber dan perhatian-perhatian substantifnya dan mengakui adanya konflik atau ketegangan di antaranya. Dalam pandangan Udehn, Weber menggunakan “metodologi individualis dan subjektivis” (1981:131). Berkenaan dengan perhatian substantif, Weber tertarik pada apa yang dilakukan para individu dan mengapa mereka melakukannya (motif-motif subjektifnya). Terkait dengan metodologi, Weber tertarik mereduksi kolektivitas menjadi tindakan-tindakan individu. Akan tetapi, di dalam sebagian besar sosiologi substantifnya, Weber berfokus pada struktur berskala besar (seperti birokrasi atau kapitalisme) dan tidak memerhatikan secara prinsipil apa yang dilakukan para individu atau mengapa mereka melakukannya. Struktur-struktur demikian tidak direduksi Weber menjadi tindakan-tindakan individu, dan aksi-aksi orang-orang di dalamnya ditentukan oleh struktur-struktur, bukan oleh motif-motif mereka. Ada sedikit keraguan bahwa terdapat kontradiksi yang besar di dalam karya Weber, dan hal tersebut menjadi perhatian pada umumnya.

Berdasarkan hal tersebut, berikut definisi sosiologi menurut Weber: “Sosiologi... adalah suatu ilmu yang berkenaan dengan pengertian interpretatif atas tindakan sosial dan dengan demikian berkenaan dengan penjelasan kausal atas rangkaian dan konsekuensi-konsekuensinya” (1921/1968:4). Yang tersirat dari definisi tersebut adalah hal-hal sebagai berikut:
1. Sosiologi harus menjadi suatu ilmu
2. Sosiologi harus berkenaan dengan kausalitas. (penggabungan sosiologi dengan sejarah)
3. Sosiologi harus menggunakan pengertian interpretatif



Sumber
Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi; Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Emile Durkheim. Hukum Represif dan Restitutif

Karena kesulitan untuk mempelajari fakta-fakta sosial nonmaterial secara langsung, maka sang sosiolog harus memeriksa fakta-fakta sosial material yang mencerminkan hakikat perubahan-perubahan di dalam fakta-fakta sosial nonmaterial. Di dalam The Division of Labor in Society, Durkheim memilih untuk mempelajari perbedaan-perbedaan di antara hukum di dalam masyarakat dengan solidaritas mekanis dan hukum di dalam masyarakat dengan solidaritas organis (Cotterrell, 1999).

Durkheim berargumen bahwa suatu masyarakat dengan solidaritas mekanis dicirikan oleh hukum yang represif (menindas). Karena itu, orang-orang sangat mirip di dalam tipe masyarakat tersebut, dan karena mereka cenderung percaya sangat kuat pada moralitas bersama, setiap serangan terhadap sistem nilai yang mereka anut bersama kemungkinan besar penting bagi sebagian besar individu. Karena itu, setiap orang merasakan serangan dan percaya secara mendalam pada moralitas bersama, seorang pelaku kejahatan kemungkinan besar dihukum dengan keras untuk setiap perbuatan yang menyerang sistem moral kolektif. Pencuri mungkin dipotong tangannya, penghujatan kepada Tuhan mungkin mengakibatkan pemotongan lidah. Bahkan, serangan-serangan kecil terhadap sistem moral mungkin mendapat hukuman yang berat.

Sebaliknya, suatu masyarakat dengan solidaritas organis dicirikan oleh hukum restitutif, yang menghendaki para pelanggar memberikan ganti rugi atas kejahatan mereka. Di dalam masyarakat demikian, pelanggaran-pelanggaran lebih mungkin dilihat sebagai perbuatan melawan individu tertentu atau segmen masyarakat daripada melawan sistem moral itu sendiri. Karena moralitas bersamanya lemah, sebagian besar orang tidak bereaksi secara emosional terhadap pelanggaran hukum. Daripada dihukum dengan keras untuk setiap pelanggaran terhadap moralitas kolektif, para pelanggar di dalam masyarakat organik lebih senang diminta untuk memberikan ganti rugi kepada orang-orang yang dirugikan oleh tindakan-tindakan mereka. Meskipun suatu hukum represif masih terus berlanjut di dalam suatu masyarakat dengan solidaritas organik (misalnya, hukuman mati), hukum restitutif masih dominan, khususnya untuk pelanggaran-pelanggaran kecil.

Ringkasnya, Durkheim berargumen di dalam The Division of Labor bahwa bentuk solidaritas moral sudah berubah di masyarakat modern, bukan lenyap. Kita mempunyai suatu bentuk baru solidaritas yang mengizinkan interdependensi yang lebih banyak dan relasi-relasi lebih dekat, yang kurang bersaing dan yang menghasilkan suatu bentuk baru hukum yang didasarkan pada restitusi. Akan tetapi, bukannya perayaan atas masyarakat modern. Durkheim berargumen bahwa bentuk solidaritas yang baru itu condong kepada jenis-jenis patologi sosial tertentu.



Sumber
Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi; Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Attention!

Pembaca yang budiman, blog ini admin namai pustaka, dengan maksud hanya perpustakaan, kumpulan berbagai artikel atau tulisan dari berbagai sumber yang admin sertakan di setiap bagian akhir postingan.
Terima kasih
Admin